Mundurnya Presiden Bolivia Evo Morales Usai ‘dirundung’ Unjuk Rasa

Presiden Bolivia, Evo Morales, akhirnya mengundurkan diri di tengah kekacauan menyusul terpilihnya kembali dirinya dalam kontestasi pemilu yang mana disengketakan bulan lalu. hari Minggu (10/11), pengawas internasional menyerukan supaya hasil pemilu togel dibatalkan. Hal ini didasarkan bahwa mereka telah mendapatkan “manipulasi yang jelas” dari hasil pemilu yang dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2019 lalu.

Morales Mengundurkan Diri Usai ‘diserang’ Unjuk Rasa

Morales sendiri sepakat dengan tmuan tersebut. ia juga mengumumkan niatnya untuk menggelar pemilu yang baru, setelah dirinya merombak komisi pemilihan umum negara itu. namun para politisi dan juga panglima militer dan kepala kepolisian sudah mendesaknya untuk segera mundur.

Dalam pernyataannya di TV, Moreles sendiri menyatakan bahwa ia akan mundur dari posisinya sebagai presiden dan mendesak para masyarakat yang berunjuk rasa untuk “berhenti menyerang saudara-saudari, berhenti membakar dan menyerang.”

Beberapa sekutunya pasalnya diserang pada awal pekan lalu, dan ia mengatakan bahwa rumah mereka juga telah dibakar. Sementara itu, Alvaro Garcia Linera, sang wakil presiden dan juga Senat Presiden Adriana Salvatierra sudah mengundurkan diri mereka.

Demonstran-demonstran itu turun ke alan untuk merayakan pengumuman itu sambil meneriakkan “Ya, kita bisa” sembari menyalakan petasan.

Yang Melatarbelakangi Pengundurkan Morales

Bolivia dilandar aksi unjuk rasa anti-pemerintah sejak berminggu-minggu lalu, menyusul adanya laporan tuduhan adanya kecurangan pemilu dalam pemilihan presiden. Ketegangan ini pertama kali berkobar pada malam pemilihan presiden setelah hasil perhitungan suara sempat dihentikan sementara selama 24 jam.

Hasil akhir menunjukkan bahwa Moreales unggul 10% suara lebih, yang mana angka yang dibutuhkan untuk bisa langsung menang di putaran pertama. Paling tidak ada 3 orang yang dilaporkan tewas dalam bentrokan yang terjadi kemudian. Dan beberapa petugas polisi berseragam pun bergabung dengan para demonstran.

Seorang wali kota di Bolivia, Patricia Arce, bahkan juga diseret ke jalanan tanpa alas kaki. Tidak hanya itu, ia disiram dengan cat merah dan dicukur rambutnya dengan cara paksa oleh demonstran-demonstran anti-pemerintah. Perlakukan yang Arce terima itu setelah dirinya dituduh mengerahkan pasukan pendukung presiden untuk membubarkan unjuk rasa yang terjadi dan berperan dalam kematian 2 orang pengunjuk rasa.

Hari Minggu (10/11) kemarin, Organisasi Negara-Negara Bagian Amerika, yang mana menjadi pengawas pemilu, mengatakan bahwa mereka sudah menemukan dan mengumpulkan bukti-bukti manipulasi data dengan skala besar, dan tak bisa mengesahkan hasil perhitungan suara sebelumnya. Tekanan pasalnya terus-menerus bertambah pada Morales sepanjang hari, seiring dengan mulai mundurnya sejumlah sekutunya di dunia politik. Beberapa di antara mereka khawatir akan keselamatan keluarganya masing-masing.

Panglima Militer, Jenderal Williams Kaliman pun mendesak Morales agar segera “mundur” dari jabatannya “untuk memungkinkan proses pengamanan dan menjaga stabilitas.” Pihak militer juga mengatakan bahwa mereka bakal melakukan operasi untuk “menetralisis” tiap kelompok yang menyerang demonstran.

Carlos Mesa, Pemimpin Oposisi, yang mendpaatkan jumlah suara di posisi kedua di pemilu bulan lalu, mengucapkan terima kasih pada para pengunjuk rasa atas sikap “kepahlawanan aksi perlawanan damai” yang dilakukan itu.

Dalam cuitan di akun media sosial pribadinya, ia menggambarkan pengundurkan diri Morales sebagai sebuah “akhir dari sebuah tirani” dan juga sebagai “sebuah pelajaran bersejarah” dengan menambahkan “Hidup Bolivia!”

Namun demikian, Pemimpin Venezuela dan Kuba, yang sebelumnya menyatakan dukungannya pada Morales mengutuk peristiwa “kudeta” yang terjadi pada hari Minggu kemarin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *